Showing posts with label Surat Ar-rad. Show all posts
Showing posts with label Surat Ar-rad. Show all posts

Surat Ar Ra'd Ayat 1-11 (Tafsir, Bacaan, dan Terjemahan)

January 24, 2018
surat ar ra'd ayat 1-11 menjelaskan tentang Ayat 1-4: Kebenaran Al Qur’an, perintah memperhatikan ayat-ayat Allah di alam semesta, bukti-bukti kekuasaan Allah dan kesempurnaan ilmu-Nya, dan karunia Allah kepada manusia.
Surat Ar Ra'd Ayat 1-11 (Tafsir, Bacaan, dan Terjemahan)

Ayat 5-7: Bagaimana kaum musyrik mengingkari kebangkitan dan terus-menerusnya mereka dalam kebatilan.

Ayat 8-11: Luasnya ilmu Allah Subhaanahu wa Ta'aala, rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya, kelembutan-Nya kepada mereka, dan bahwa tidak ada sesuatu pun yang samar bagi-Nya, dan bahwa kebangkitan dan keruntuhan suatu bangsa tergantung pada sikap dan tindakan mereka sendiri.

Surat Ar Ra'd Ayat 1-11


المر تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ وَالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يُؤْمِنُونَ (١) اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لأجَلٍ مُسَمًّى يُدَبِّرُ الأمْرَ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ (٢) وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الأرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (٣) وَفِي الأرْضِ قِطَعٌ مُتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي الأكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ               (٤)
وَإِنْ تَعْجَبْ فَعَجَبٌ قَوْلُهُمْ أَئِذَا كُنَّا تُرَابًا أَئِنَّا لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ الأغْلالُ فِي أَعْنَاقِهِمْ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (٥) وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ وَقَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمُ الْمَثُلاتُ وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ لِلنَّاسِ عَلَى ظُلْمِهِمْ وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِيدُ الْعِقَابِ (٦)وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرٌ وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ (٧

اللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَحْمِلُ كُلُّ أُنْثَى وَمَا تَغِيضُ الأرْحَامُ وَمَا تَزْدَادُ وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِمِقْدَارٍ (٨) عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ (٩) سَوَاءٌ مِنْكُمْ مَنْ أَسَرَّ الْقَوْلَ وَمَنْ جَهَرَ بِهِ وَمَنْ هُوَ مُسْتَخْفٍ بِاللَّيْلِ وَسَارِبٌ بِالنَّهَارِ (١٠) لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ (١١



Bacaan Latin


1. alif-laam-miim-raa tilka aayaatu alkitaabi waalladzii unzila ilayka min rabbika alhaqqu walaakinna aktsara alnnaasi laa yu/minuuna

2. allaahu alladzii rafa’a alssamaawaati bighayri ‘amadin tarawnahaa tsumma istawaa ‘alaa al’arsyi wasakhkhara alsysyamsa waalqamara kullun yajrii li-ajalin musamman yudabbiru al-amra yufashshilu al-aayaati la’allakum biliqaa-i rabbikum tuuqinuuna

3. wahuwa alladzii madda al-ardha waja’ala fiihaa rawaasiya wa-anhaaran wamin kulli altstsamaraati ja’ala fiihaa zawjayni itsnayni yughsyii allayla alnnahaara inna fii dzaalika laaayaatin liqawmin yatafakkaruuna

4. wafii al-ardhi qitha’un mutajaawiraatun wajannaatun min a’naabin wazar’un wanakhiilun shinwaanun waghayru shinwaanin yusqaa bimaa-in waahidin wanufadhdhilu ba’dhahaa ‘alaa ba’dhin fii alukuli inna fii dzaalika laaayaatin liqawmin ya’qiluuna

5. wa-in ta’jab fa’ajabun qawluhum a-idzaa kunnaa turaaban a-innaa lafii khalqin jadiidin ulaa-ika alladziina kafaruu birabbihim waulaa-ika al-aghlaalu fii a’naaqihim waulaa-ika ash-haabu alnnaari hum fiihaa khaaliduuna

6. wayasta’jiluunaka bialssayyi-ati qabla alhasanati waqad khalat min qablihimu almatsulaatu wa-inna rabbaka ladzuu maghfiratin lilnnaasi ‘alaa zhulmihim wa-inna rabbaka lasyadiidu al’iqaabi

7. wayaquulu alladziina kafaruu lawlaa unzila ‘alayhi aayatun min rabbihi innamaa anta mundzirun walikulli qawmin haadin

8. allaahu ya’lamu maa tahmilu kullu untsaa wamaa taghiidhu al-arhaamu wamaa tazdaadu wakullu syay-in ‘indahu bimiqdaarin

9. ‘aalimu alghaybi waalsysyahaadati alkabiiru almuta’aali

10. sawaaun minkum man asarra alqawla waman jahara bihi waman huwa mustakhfin biallayli wasaaribun bialnnahaari


11. lahu mu’aqqibaatun min bayni yadayhi wamin khalfihi yahfazhuunahu min amri allaahi inna allaaha laa yughayyiru maa biqawmin hattaa yughayyiruu maa bi-anfusihim wa-idzaa araada allaahu biqawmin suu-an falaa maradda lahu wamaa lahum min duunihi min waalin


Terjemahan (Artinya)


1. Alif Laam Miim Raa. Ini adalah ayat-ayat kitab (Al Quran). Dan kitab yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu itu adalah benar[1]; tetapi kebanyakan manusia tidak beriman[2].

2.[3] Allah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy[4]. Dia menundukkan matahari dan bulan[5]; masing-masing beredar sampai waktu yang telah ditentukan[6]. Dia mengatur urusan (makhluk-Nya), dan menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan-Nya)[7], agar kamu[8] yakin akan pertemuan dengan Tuhanmu[9].

3. Dan Dia yang membentangkan bumi[10] dan menjadikan gunung-gunung[11] dan sungai-sungai di atasnya[12]. Dan padanya Dia menjadikan semua buah-buahan berpasang-pasangan[13]; Dia menutupkan malam kepada siang[14]. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (keesaan Allah) bagi orang-orang yang berpikir[15].

4. Dan di bumi terdapat bagian-bagian (berbeda) yang berdampingan[16]. Kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, pohon kurma yang bercabang, dan yang tidak bercabang; disirami dengan air yang sama, Tetapi Kami lebihkan tanaman yang satu dari yang lainnya dalam hal rasanya[17]. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berpikir.

5. Dan jika engkau merasa heran[18], maka yang mengherankan adalah ucapan mereka, “Apabila kami telah menjadi tanah, apakah kami akan (dikembalikan) menjadi makhluk yang baru?[19]” Mereka itulah yang ingkar kepada Tuhannya; dan mereka itulah (yang dilekatkan) belenggu di lehernya[20]. Mereka adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

6.[21] Dan mereka meminta kepadamu agar dipercepat (datangnya) siksaan, sebelum (mereka meminta) kebaikan[22], padahal telah terjadi bermacam-macam contoh siksaan sebelum mereka. Sungguh, Tuhanmu benar-benar memiliki ampunan bagi manusia atas kezaliman mereka[23], dan sungguh, Tuhanmu sangat keras siksaan-Nya[24].

7. Orang-orang kafir berkata, “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu tanda (mukjizat) dari Tuhannya?”[25] Sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk[26].

8.[27] Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan[28], apa yang kurang sempurna[29] dan apa yang bertambah dalam rahim. Dan segala sesuatu ada ukuran di sisi-Nya[30].

9. (Allah) Yang mengetahui semua yang gaib dan yang nyata; Yang Mahabesar[31] lagi Mahatinggi[32].

10. Sama saja (bagi Allah), siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengannya, dan siapa yang bersembunyi pada malam hari dan yang berjalan pada siang hari[33].

11. Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya[34] atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan[35] diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan[36] terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia[37].

Penjelasan 


[1] Hal itu karena beritanya benar, perintah dan larangannya adil, diperkuat oleh dalil-dalil dan bukti yang nyata. Oleh karena itu, barang siapa yang mendatangi Al Qur’an dan mendalaminya, maka ia termasuk orang yang mengetahui kebenaran dan hal ini menghendaki orang itu mengamalkannya.

[2] Bahwa Al Qur'an berasal dari sisi-Nya, bisa karena kebodohannya, sikap berpalingnya, tidak peduli, membangkang, atau bersikap zalim.

[3] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitakan tentang keesaan-Nya dalam mencipta dan mengatur, dan keesaan-Nya dalam hal kebesaran dan keuasaan-Nya, di mana hal itu menunjukkan bahwa hanya Dia yang berhak disembah satu-satunya.

[4] Dia bersemayam di atas ‘Arsy sesuai dengan kebesaran dan kesempurnaan-Nya. ‘Arsy adalah makhluk paling besar yang menjadi atap seluruh makhluk.

[5] Untuk maslahat manusia, hewan ternak mereka dan pohon-pohon yang mereka tanam.

[6] Yakni sampai hari kiamat, hari di mana Allah melipat alam ini dan memindahkan penghuninya ke negeri akhirat. Ketika itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala melipat langit dan menggantinya, merubah bumi dan menggantinya, matahari dan bulan digulung dan dilipat, lalu disatukan kemudian dijatuhkan ke dalam neraka agar manusia yang pernah menyembahnya menyaksikan langsung bahwa matahari dan bulan tidak pantas disembah sehingga mereka pun menyesal dan agar orang-orang kafir mengetahui bahwa mereka berdusta.

[7] Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang mengatur semua urusan di alam atas maupun bawah, Dia mencipta dan memberi rezeki, mengkayakan seseorang dan menjadikannya miskin, meninggikan sebagian orang dan merendahkan yang lain, memuliakan dan menghinakan, memaafkan ketergelinciran hamba, menghilangkan derita yang menimpa hamba, menjalankan taqdir-Nya pada waktu-waktu yang telah diketahui-Nya dan mengutus para malaikat untuk mengurus apa yang ditugaskan bagi mereka untuk mengurusnya. Dia pula yang menurunkan kitab kepada rasul-rasul-Nya, menerangkan apa yang dibutuhkan hamba berupa syari’at, perintah dan larangan serta menerangkannya secara rinci.

[8] Dengan sebab ayat-ayat-Nya yang ada di ufuk maupun yang ada dalam Al Qur’an.

[9] Karena dengan banyaknya dalil, jelas dan rincinya termasuk sebab untuk memperoleh keyakinan dalam semua perkara ilahi, khususnya dalam masalah ‘Aqidah, seperti kebangkitan dan keluarnya manusia dari alam kubur. Di samping itu, sudah maklum bahwa Allah Ta’ala Mahabijaksana, Dia tidak menciptakan makhluk begitu saja dan tidak membiarkan mereka, Dia juga telah mengutus para rasul dan menurunkan kitab, maka tidak dapat tidak mereka harus dipindahkan ke negeri di mana mereka menerima balasan, lalu orang-orang yang berbuat baik dibalas dengan balasan terbaik, sedangkan orang-orang yang berdosa dibalas dengan dosa mereka.

[10] Meluaskannya, memberkahinya, menyiapkannya untuk manusia dan menyimpan di dalamnya hal-hal yang bermaslahat bagi manusia.

[11] Jika gunung tidak ada tentu terjadi kegoncangan, karena tempat yang mereka tempati berada di atas air, tidak bisa kokoh dan diam kecuali dengan adanya gunung-gunung kokoh yang menancap bagai pasak.

[12] Yang dapat diminum oleh manusia, hewan dan diserap oleh pepohonan. Dengan sungai-sungai keluar pepohonan, tanaman, dan buah-buahan yang banyak.

[13] Yang dimaksud berpasang-pasangan, ialah jantan dan betina, pahit dan manis, putih dan hitam, besar-kecil dan sebagainya.

[14] Ufuk langit pun menjadi gelap, semua makhluk hidup kembali ke tempatnya dan beristirahat setelah dibuat lelah di siang hari. Setelah mereka memenuhi kebutuhan mereka beristirahat, Allah menutup malam dengan siang, dan manusia pun bertebaran mencari maslahat mereka.

[15] Di mana pada semua itu terdapat dalil yang menunjukkan bahwa yang menciptakan, mengatur dan mengolahnya adalah Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Yang berkuasa terhadap segala sesuatu, Yang Mahabijaksana lagi Maha terpuji.

[16] Di antaranya ada tanah yang yang menumbuhkan rerumputan, pohon-pohon, dan tanaman-tanaman. Ada pula tanah yang tidak menumbuhkan rerumputan dan tidak menahan air. Ada pula tanah yang menahan air, namun tidak menumbuhkan rerumputan, dan ada pula tanah yang menumbuhkan tanaman dan pohon-pohon, namun tidak menumbuhkan rerumputan.

[17] Demikian pula warna, manfaat, dan kelezatannya. Kemudian, apakah bermacam-macam ini dengan sendirinya ataukah dengan pengaturan dari Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana?

[18] Karena orang-orang kafir mendustakanmu. Bisa juga maksudnya, jika engkau heran terhadap kebesaran Allah Ta’ala dan banyaknya dalil-dalil yang menunjukkan keesaan-Nya.

[19] Menurut mereka, hal itu adalah mustahil. Nampaknya mereka tidak menyadari, bahwa yang mampu mengadakan makhluk pertama kali sudah pasti mampu mengadakan makhluk kembali setelah mati, karena hal itu lebih mudah. Tetapi karena kebodohan mereka, mereka mengqiaskan kemampuan Allah dengan kemampuan makhluk. Menurut mereka, jika makhluk saja tidak mampu, demikian pula Al Khaliq (Allah Subhaanahu wa Ta'aala). Mereka lupa, bahwa Allah-lah yang menciptakan mereka pertama kali, sedang mereka sebelumnya tidak ada sama sekali, di mana hal itu sebenarnya lebih berat daripada menciptakan kembali yang sebelumnya sudah ada.

[20] Yaitu belenggu-belenggu yang menghalangi mereka dari mengikuti petunjuk, sehingga ketika mereka diajak beriman, mereka tidak mau beriman, dan ketika disodorkan petunjuk kepada mereka, namun mereka tidak mau mengambilnya.

[21] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan tentang kebodohan orang-orang yang mendustakan rasul-Nya lagi menyekutukan-Nya dengan sesuatu, yang diberi nasehat namun tidak mau menerimanya, yang telah ditegakkan hujjah namun tidak mau tunduk kepadanya, bahkan terang-terangan menampakkan keingkaran, dan mereka berdalih dengan santunnya Allah terhadap mereka dan tidak mengazab mereka segera bahwa mereka di atas kebenaran. Lebih dari itu, mereka meminta kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam agar didatangkan segera azab kepada mereka, padahal contoh-contoh siksaan Allah yang diberikan kepada orang-orang yang mendustakan rasul demikian banyak. Apakah mereka tidak memikirkan keadaan itu sehingga meninggalkan sikap bodohnya?

[22] Orang-orang musyrik sambil mengejek, meminta kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, agar disegerakan turunnya siksa, padahal seharusnya mereka lebih dahulu meminta rahmat dan keselamatan.

[23] Jika setiap kezaliman diberikan hukuman, tentu tidak ada makhluk yang tersisa di bumi, akan tetapi Dia memberikan tangguh mereka agar mereka kembali dan bertobat. Kebaikan, ihsan dan maaf-Nya senantiasa turun kepada hamba, akan tetapi keburukan mereka malah yang naik kepada-Nya. Mereka mendurhakai-Nya, namun Dia mengajak mereka untuk kembali kepada-Nya, mereka berbuat dosa, tetapi kebaikan dan ihsan-Nya tidak dihalangi dari mereka. Jika mereka bertobat, maka Dia cinta kepada mereka, dan jika mereka tidak bertobat, maka Dia tabib (dokter) mereka, Dia uji mereka dengan musibah untuk membersihkan mereka dari cela dan kekurangan, Dia berfirman:

Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Terj. Az Zumar: 53)

[24] Bagi mereka yang tidak berhenti dari dosa-dosa, enggan bertobat, beristighfar, dan enggan kembali kepada Allah yang Mahaperkasa lagi Maha Pengampun. Oleh karena itu, hendaknya manusia takut terhadap siksaan-Nya kepada pelaku dosa, karena siksa-Nya begitu pedih dan keras.

[25] Mereka mengusulkan mukjizat sesuai yang mereka inginkan, dan kata-kata ini mereka jadikan sebagai uzur untuk tidak mengikuti seruan rasul, padahal tugas Beliau hanyalah menyampaikan (yakni Beliau tidak dibebani mendatangkan mukjizat), Allah-lah yang mendatangkannya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala sebenarnya telah menguatkan Beliau dengan mukjizat yang tidak samar bagi orang-orang yang berakal, dan dengannya orang yang mencari petunjuk mendapatkan hidayah. Adapun usulan orang kafir yang sebenarnya timbul dari kezaliman dan kebodohan hanyalah sebatas usulan yang batil dan dusta. Hal itu, karena kalau pun mukjizat itu datang, ia tetap tidak beriman dan tidak tunduk, karena ia tidak beriman bukan karena tidak ada bukti yang menunjukkan kebenarannya, akan tetapi karena mengikuti hawa nafsunya.

[26] Yakni seorang nabi yang mengajak mereka kepada Tuhan mereka dengan membawa mukjizat yang menunjukkan kebenarannya, namun tidak mengikuti permintaan kaumnya.

[27] Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan tentang pengetahuan-Nya yang mencakup segalanya dan meliputinya.

[28] Apakah bayinya laki-laki atau perempuan, kembar atau tidak, dsb.

[29] Dari waktu hamil atau berkurang dalam arti kandungan itu binasa, menciut atau mati.

[30] Tidak maju dan tidak mundur, tidak bertambah dan tidak berkurang melainkan sesuai yang dikehendaki hikmah dan ilmu-Nya.

[31] Baik dzat-Nya, nama-Nya maupun sifat-Nya.

[32] Di atas seluruh makhluk-Nya, baik dzat-Nya, kedudukan dan kekuasaan-Nya, serta tinggi dari semua sifat kekurangan.

[33] Dengan bersembunyi, seperti di gua, terowongan, dsb.

[34] Bagi setiap manusia ada beberapa malaikat yang menjaganya secara bergiliran di malam dan siang hari, dan ada pula beberapa malaikat yang mencatat amalan-amalannya. Namun yang dimaksud dalam ayat ini adalah malaikat yang menjaga secara bergiliran, yaitu malaikat hafazhah, baik menjaga badan maupun ruhnya, dari makhluk yang hendak berbuat buruk kepadanya seperti jin, manusia dan lainnya. Mereka juga menjaga semua amalnya.

[35] Allah tidak akan mengubah keadaan mereka, selama mereka tidak mengubah sebab-sebab kemunduran mereka. Ada pula yang menafsirkan, bahwa Allah tidak akan mencabut nikmat yang diberikan-Nya, sampai mereka mengubah keadaan diri mereka, seperti dari iman kepada kekafiran, dari taat kepada maksiat dan dari syukur kepada kufur. Demikian pula apabila hamba mengubah keadaan diri mereka dari maksiat kepada taat, maka Allah akan mengubah keadaanya dari sengsara kepada kebahagiaan.

[36] Seperti azab dan perkara yang tidak mereka inginkan.

[37] Yang akan menghindarkan azab itu. Oleh karena itu, hendaknya orang yang tetap berada di atas perbuatan yang dimurkai Allah berhati-hati jika nanti Allah timpakan siksaan yang tidak dapat ditolak.

Surat Ar Ra'd Ayat 25-34 (Tafsir, Bacaan , dan Terjemahan)

January 24, 2018
kali ini kita akan membahas surat ar ra'd ayat 25-34 beserta dengan tafsir, bacaan, dan terjemahannya (artinya). ayat 25-34 menjelaskan tentang : Di antara sifat dan perbuatan orang-orang kafir, dan bahwa mereka senang dengan kesenangan yang mereka dapatkan di dunia, serta penjelasan bahwa rezeki itu di Tangan Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
Surat Ar Ra'd Ayat 25-34 (Tafsir, Bacaan , dan Terjemahan)


Surat Ar Ra'd Ayat 25-34


وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الأرْضِ أُولَئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ (٢٥) اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلا مَتَاعٌ (٢٦)وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ قُلْ إِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ أَنَابَ (٢٧
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (٢٨) الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ طُوبَى لَهُمْ وَحُسْنُ مَآبٍ (٢٩
كَذَلِكَ أَرْسَلْنَاكَ فِي أُمَّةٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهَا أُمَمٌ لِتَتْلُوَ عَلَيْهِمُ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَنِ قُلْ هُوَ رَبِّي لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابِ (٣٠) وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الأرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَى بَلْ لِلَّهِ الأمْرُ جَمِيعًا أَفَلَمْ يَيْأَسِ الَّذِينَ آمَنُوا أَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَهَدَى النَّاسَ جَمِيعًا وَلا يَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا تُصِيبُهُمْ بِمَا صَنَعُوا قَارِعَةٌ أَوْ تَحُلُّ قَرِيبًا مِنْ دَارِهِمْ حَتَّى يَأْتِيَ وَعْدُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ (٣١) وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَمْلَيْتُ لِلَّذِينَ كَفَرُوا ثُمَّ أَخَذْتُهُمْ فَكَيْفَ كَانَ عِقَابِ (٣٢) أَفَمَنْ هُوَ قَائِمٌ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ قُلْ سَمُّوهُمْ أَمْ تُنَبِّئُونَهُ بِمَا لا يَعْلَمُ فِي الأرْضِ أَمْ بِظَاهِرٍ مِنَ الْقَوْلِ بَلْ زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مَكْرُهُمْ وَصُدُّوا عَنِ السَّبِيلِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ (٣٣) لَهُمْ عَذَابٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَعَذَابُ الآخِرَةِ أَشَقُّ وَمَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَاقٍ (٣٤



Bacaan Teks Latin

25. waalladziina yanqudhuuna ‘ahda allaahi min ba’di miitsaaqihi wayaqtha’uuna maa amara allaahu bihi an yuushala wayufsiduuna fii al-ardhi ulaa-ika lahumu alla’natu walahum suu-u alddaari

26. allaahu yabsuthu alrrizqa liman yasyaau wayaqdiru wafarihuu bialhayaati alddunyaa wamaa alhayaatu alddunyaa fii al-aakhirati illaa mataa’un

27. wayaquulu alladziina kafaruu lawlaa unzila ‘alayhi aayatun min rabbihi qul inna allaaha yudhillu man yasyaau wayahdii ilayhi man anaaba

28. alladziina aamanuu watathma-innu quluubuhum bidzikri allaahi alaa bidzikri allaahi tathma-innu alquluubu

29. alladziina aamanuu wa’amiluu alshshaalihaati thuubaa lahum wahusnu maaabin

30. kadzaalika arsalnaaka fii ummatin qad khalat min qablihaa umamun litatluwa ‘alayhimu alladzii awhaynaa ilayka wahum yakfuruuna bialrrahmaani qul huwa rabbii laa ilaaha illaa huwa ‘alayhi tawakkaltu wa-ilayhi mataabi

31. walaw anna qur-aanan suyyirat bihi aljibaalu aw quththhi’at bihi al-ardhu aw kullima bihi almawtaa bal lillaahi al-amru jamii’an afalam yay-asi alladziina aamanuu an law yasyaau allaahu lahadaa alnnaasa jamii’an walaa yazaalu alladziina kafaruu tushiibuhum bimaa shana’uu qaari’atun aw tahullu qariiban min daarihim hattaa ya/tiya wa’du allaahi inna allaaha laa yukhlifu almii’aada

32. walaqadi istuhzi-a birusulin min qablika fa-amlaytu lilladziina kafaruu tsumma akhadztuhum fakayfa kaana ‘iqaabi

33. afaman huwa qaa-imun ‘alaa kulli nafsin bimaa kasabat waja’aluu lillaahi syurakaa-a qul sammuuhum am tunabbi-uunahu bimaa laa ya’lamu fii al-ardhi am bizhaahirin mina alqawli bal zuyyina lilladziina kafaruu makruhum washudduu ‘ani alssabiili waman yudhlili allaahu famaa lahu min haadin

34. lahum ‘adzaabun fii alhayaati alddunyaa wala’adzaabu al-aakhirati asyaqqu wamaa lahum mina allaahi min waaqin


Terjemahan (artinya)

25.[1] Dan orang-orang yang melanggar janji Allah[2] setelah diikrarkannya dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah agar dihubungkan[3] dan berbuat kerusakan di bumi, mereka itulah memperoleh kutukan[4] dan tempat kediaman yang buruk (Jahannam).

26. Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki). Mereka bergembira dengan kehidupan dunia[5], padahal kehidupan dunia hanyalah kesenangan (yang sedikit dan sementara) dibanding kehidupan akhirat.

27. Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Tuhannya?”[6] Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki[7] dan memberi petunjuk orang yang kembali kepada-Nya[8],”

28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah[9]. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.

29. Orang-orang yang beriman[10] dan mengerjakan kebajikan[11], mereka mendapat kebahagiaan[12] dan tempat kembali yang baik.

30. Demikianlah[13], Kami telah mengutus engkau (Muhammad) kepada suatu umat[14] yang sungguh sebelumnya telah berlalu beberapa umat[15], agar engkau bacakan kepada mereka (Al Quran) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka ingkar kepada Tuhan yang Maha Pengasih[16]. Katakanlah, “Dia Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia[17]; hanya kepada-Nya aku bertawakkal[18] dan hanya kepada-Nya aku bertobat[19].”

31.[20] Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan itu gunung-gunung dapat bergeser (dari tempatnya), atau bumi jadi terbelah[21], atau orang yang sudah mati dapat berbicara, (itulah Al Quran)[22]. Sebenarnya segala urusan itu milik Allah[23]. [24]Maka tidakkah orang-orang yang beriman mengetahui bahwa sekiranya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya[25]. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri[26] atau bencana[27] itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sampai datang janji Allah[28]. Sungguh, Allah tidak menyalahi janji[29].

32. Dan sesungguhnya beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad) telah diperolok-olokkan[30], maka Aku beri tenggang waktu kepada orang-orang kafir itu, kemudian Aku binasakan mereka. Maka alangkah dahsyatnya siksaan-Ku itu![31]

33. Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap jiwa terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang lain)?[32] Mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah[33]. Katakanlah, “Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu[34].” Atau apakah kamu hendak memberitakan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di bumi[35], atau (mengatakan tentang hal itu[36]) sekedar perkataan pada lahirnya saja[37]. Sebenarnya bagi orang-orang kafir, tipu daya mereka itu[38] dijadikan terasa indah, dan mereka dihalangi dari jalan (yang benar). Dan barang siapa disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun yang memberi petunjuk baginya.

34. Mereka mendapat siksaan dalam kehidupan dunia[39], dan azab akhirat pasti lebih keras[40]. Tidak ada seorang pun yang melindungi mereka dari (azab) Allah.


Penjelasan

[1] Setelah Allah menyebutkan keadaan penghuni surga, Allah menyebutkan keadaan penghuni neraka.

[2] Yang disampaikan melalui para rasul, lalu mereka tidak mau tunduk dan menerima, bahkan malah berpaling dan melanggarnya.

[3] Mereka tidak menyambung hubungan mereka dengan Tuhan mereka dengan iman dan amal saleh, dan tidak menyambung hubungan mereka dengan kerabat dengan bersilaturrahim, dan mereka tidak memenuhi hak-hak, bahkan mengadakan kerusakan di bumi dengan berbuat kekafiran dan kemaksiatan serta menghalangi manusia dari jalan Allah dan menginginkannya menjadi bengkok.

[4] Dijauhkan dari rahmat Allah, dan mendapatkan celaan dari Allah, malaikat-Nya dan hamba-hamba-Nya yang beriman.

[5] Karena apa yang mereka peroleh darinya.

[6] Mereka menyatakan, bahwa jika mukjizat itu datang, niscaya mereka akan beriman, padahal kesesatan dan hidayah bukanlah di tangan mereka, sehingga mereka menggantungkan hal itu dengan datangnya mukjizat. Mereka berdusta dalam ucapannya itu, bahkan, ”Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Terj. Al An’aam: 111)

Demikian juga tidak mesti rasul itu harus mendatangkan mukjizat yang mereka tentukan dan usulkan, bahkan jika Beliau datang kepada mereka dengan membawa ayat yang menerangkan kebenaran yang dibawanya, maka hal itu pun sudah cukup, dan lebih bermanfaat bagi mereka dari usulan yang mereka usulkan. Hal itu, karena jika mukjizat yang mereka usulkan itu datang, lalu mereka tidak beriman, maka azab akan disegerakan untuk mereka.

[7] Sehingga ayat-ayat yang menunjukkan kebenaran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah berguna sedikit pun baginya.

[8] Yakni bertobat kepada-Nya, atau mencari keridhaan-Nya.

[9] Dan memang patut demikian. Hal itu, karena tidak ada yang lebih nikmat bagi hati dan lebih manis baginya daripada mencintai Tuhannya, dekat dengan-Nya dan mengenal-Nya. Semakin tinggi tingkat ma’rifat(mengenal)nya kepada Allah dan kecintaan kepada-Nya, maka semakin banyak menyebut nama Tuhannya dan mengingat-Nya, seperti dengan bertasih, bertahlil (mengucapkan Laailaahaillallah), bertakbir, dsb. Ada yang menafsirkan “mengingat Allah” di sini dengan mengingat janji Allah Ta’ala. Ada pula yang menafsirkan “mengingat Allah” dengan kitab-Nya yang diturunkan sebagai pengingat bagi orang-orang mukmin. Oleh karena itu, maksud tenteramnya hati karena mengingat Allah adalah ketika mengenali kandungan Al Qur’an dan hukum-hukumnya, karena kandungannya menunjukkan kebenaran kebenaran lagi diperkuat dalil-dalil dan bukti sehingga hati semakin tenteram, karena hati tidaklah tenteram kecuali dengan ilmu dan keyakinan, dan hal itu ada dalam kitab Allah.

[10] Kepada rukun iman yang enam.

[11] Mereka membuktikan keimanannya dengan amal saleh.

[12] Karena mereka mendapatkan keridhaan Allah dan kemuliaan-Nya di dunia dan akhirat. Mereka juga memperoleh istirahat dan ketenangan yang sempurna, di antaranya adalah dengan memperoleh pohon thubaa di surga; di mana seorang pengendara berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun, namun belum juga dilaluinya.

[13] Sebagaimana Kami telah mengutus para nabi sebelummu.

[14] Agar engkau (Muhammad) mengajak mereka kepada petunjuk.

[15] Yang kepada mereka diutus pula para rasul. Sehingga engkau bukanlah rasul yang baru yang menyebabkan mereka mengingkari kerasulanmu.

[16] Mereka mengatakan saat diperintahkan untuk sujud kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, “Siapakah Tuhan Yang Maha Pengasih itu?” Mereka tidak membalas rahmat dan ihsan-Nya -yang salah satunya adalah dengan diutus-Nya rasul dan diturukan-Nya kitab- dengan menerima dan bersyukur, bahkan mereka menolak dan mengingkarinya.

[17] Kalimat ini mengandung dua tauhid; tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah, yakni memberitahukan bahwa hanya Allah Tuhan yang mencipta, memberi rezeki dan menguasai alam semesta, dan hanya Dia yang berhak disembah; tidak selain-Nya.

[18] Dalam semua urusanku.

[19] Ada yang mengartikan dengan, “Aku kembali kepada-Nya dalam semua ibadah dan kebutuhanku.”

[20] Dalam ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan kelebihan Al Qur’an di atas kitab-kitab lainnya yang diturunkan.

Disebutkan dalam tafsir Al Jalaalain, bahwa ayat ini turun ketika orang-orang musyrik berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, “Jika engkau memang seorang nabi, maka singkirkanlah dari kami gunung-gunung Mekah, dan jadikanlah untuk kami di sana sungai-sungai dan mata air agar kami menanam dan menggarapnya, serta bangkitkanlah nenek-moyang kami yang sudah meninggal agar berbicara dengan kami bahwa engkau adalah seorang nabi.” Namun kami belum mengetahui kesahihan riwayat ini, wallahu a’lam.

[21] Menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai.

[22] Ayat ini dapat juga diartikan, “Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan membacanya gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, maka itulah Al Qur’an (namun mereka tetap tidak juga akan beriman).”

[23] Bukan milik selain-Nya. Oleh karena itu, jika apa yang mereka usulkan itu didatangkan, maka tidak ada yang beriman selain orang yang Dia kehendaki untuk beriman.

[24] Disebutkan dalam tafsir Al Jalaalain, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan keinginan para sahabat agar ditunjukkan mukjizat yang diusulkan orang-orang musyrik karena keinginan dari mereka agar orang-orang musyrik itu beriman.

[25] Tanpa perlu mendatangkan mukjizat. Tetapi Dia tidak menghendaki, Dia memberi petunjuk siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki.

[26] Seperti dibunuh, ditawan, diperangi atau ditimpa kemarau panjang.

[27] Yang ditimpakan pasukan engkau wahai Muhammad.

[28] Ada yang menafsirkan dengan penaklukkan Mekah. Ada pula yang menafsirkan dengan ancaman Allah untuk diturunkan azab yang tidak mungkin ditolak.

[29] Ini merupakan ancaman untuk mereka (orang-orang kafir) dan untuk menakut-nakuti mereka terhadap turunnya azab yang diancamkan itu karena kekafiran, pembangkangan dan kezaliman mereka.

[30] Oleh karena itu, engkau bukanlah orang pertama yang didustakan dan disakiti. Ayat ini merupakan hiburan bagi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

[31] Yakni tepat mengenai sasaran. Demikian pula tindakan Allah kepada orang-orang yang mengolok-olok Rasul-Nya. Oleh karena itu, janganlah sekali-kali mereka yang mendustakan dan mengolok-olok itu tertipu bahwa mereka tidak akan diazab hanya karena diberi tenggang waktu.

[32] Tentu tidak sama.

[33] Padahal Dia Mahaesa dan semua makhluk bergantung kepada-Nya.

[34] Agar diketahui keadaan yang sebenarnya.

[35] Bahwa Dia memiliki sekutu. Jika memang Dia memiliki sekutu, tentu Dia mengetahuinya.

[36] Yakni sebagai sekutu.

[37] Yang sama sekali tidak ada hakikatnya.

[38] Yakni perbuatan kufurnya, syirknya dan pendustaannya terhadap ayat-ayat Allah.

[39] Seperti dengan dibunuh dan ditawan.

[40] Karena dahsyat dan kekalnya.